Sabtu, 22 Desember 2012

Aku, Hujan & Separuh aku

Hujan saat masa saya kecil dulu ialah teman alam yang selalu saya dan kawan ajak bermain. Ketika kami bermain bola lalu hujan turun, kami tak  lantas menyudahi permainan, kami malah semakin menari riang di tengah lapangan, dan tak jarang selalu berujung tawa riang ketika kami kembali pulang.
Meski saat datang ke rumah lalu bunda saya marah karena melihat pakaian saya yang kotor, tapi bunda ku tdk pernah kemudian melarang lagi bermain bersama hujan, iya karena bunda bakal nyuci baju kotor pake mesin cuci. Eeh bukan-bukan tapi bunda tau bahwa bermain di bawah rintik hujan ialah salah satu cara untuk mensyukuri kucuran nikmat Tuhan dari langit.

Setelah aku dewasa, hujan tetap memiliki nilai tersendiri, bahkan semakin kental. Entah berapa lembar buku harian habis kutulisi dengan latar belakang hujan. Selalu hujan dan hujan. Puluhan puisi dan syair cinta tercipta saat hujan turun dan mengepungku di tengah derasnya.


Hingga lembaran terakhirpun tetap ada hujan di sela-sela kalimatnya. Hanya saja di lembaran-lembaran terakhir tak ada lagi tawa saat mengenang hujan. Hanya ada hujan dan banyak kehilangan. *my_family

Sejak saat itu, setiap kali hujan datang aku kembali suka menghabiskan waktu di balik jendela. Menghitungi setiap tetesnya dengan airmata. Merapalkan amarah dan kesedihan dalam bisikan berlatar dendam. Aku benci hujan. Aku benci dia yang selalu mengambil milikku satu persatu.

Tetapi sang waktu semakin mendewasakan pikirku, aku memang tak bisa melawan takdir. Garis Tuhan tak akan bisa dipatahkan, dan aku mengalah.


Aku mulai menunggu hujan dengan hati yang baru, aku mencoba berdamai dengannya, menikmati tetesnya yang dulu selalu menyelimutiku dengan sejuknya. Memutar kembali tawa yang dulu pernah terekam di tengah rinainya, dan aku bisa.

Setelah itu hujan pun mengenalkanku pada separuh aku *ulfah alfiyyah abu yang saya sangat mencintainya. Melalui syairnya aku tahu, kalau hujan tak selalu membawa kesedihan. Bersahabatlah dengannya, maka hujan akan meleburkan dukamu melalui setiap tetesnya. Hujan akan memelukmu dengan rinainya, mengajakmu menari di bawah derasnya. 


Bahkan saya mengalami indahnya romantisme hujan itu bersama *ulfah pacar saya sekarang & kelak menjadi masa depan ku #amin (ngarep), sering sekali ditengah perjalanan kita naik motor keujanan, dan pacar selalu bilang buat make jas ujan, tapi saya punya dan gak mau make, juga dengan kelembutan hati saya memberikan pengertian kepadanya, dengan bilang klo saya lebih suka menari di bawah hujan dibanding pake payung atau jas ujan di motor. 

Hal yang paling saya senangi, dan mungkin tak pernah terlupakan dalam hidup saya. untuk pertama kalinya saya memegang tangannya di saat hujan datang. Mungkin hujan ingin menyatuhkan kami, it's the first time holding her hands, The first girl I was holding her hand except my family :)


 



Aku tertawa, kini aku bisa kembali tertawa saat hujan turun, bersamanya, separuh aku yang mengajariku begitu banyak coreng kehidupan yang dapat kita hapus dengan hujan.



"ketika hujan turun janganlah kau kutuki rintik mereka, jika kau ada janji dengan seseorang yang batal karenanya atau terhambatnya perjalananmu olehnya maka salahkanlah dirimu yang tak bijak dengan waktu juga alam." 

~Begitulah hujan, seolah ceritanya tak mampu terhitung seiring dengan jumlah rintik-rintiknya. Takkan hilang dan terserap kembali menjadi kehidupan baru oleh tanah.~

Tak perlu jabat tangan untuk saling mengenal, tak perlu tatap muka untuk saling menyayang. Selama hati terpaut, ikatan kasih akan terjalin erat.
Love You, Ulfah alfiyyah abu  :)

 

5 komentar: