Jumat, 16 Maret 2012

Fort Rotterdam & Museum La Galigo

Tujuan pertama saya hari ini adalah benteng paling terkenal di Makassar yaitu Fort Rotterdam.  Benteng ini sangat mudah dikenali dari arsitektur gedungnya yang serba kemerahan dan bernuansa ‘Belanda’. Ruetnya dimulai dari Universitas Negeri makassar _ Parantambung ke Jln.cendrawasi _ jln.ujung pandang. Jam buka benteng adalah jam 08.00 – 17.30, tidak ada tiket masuk hanya pada saat mengisi buku tamu diharapkan pengunjung memberi donasi sesukanya.Benteng ini dulunya adalah milik kerajaan Gowa-Tallo, tapi waktu itu konstruksinya terbuat dari batu padas dan tanah liat dan berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. 

 Begitu kalah perang, benteng ini akhirnya diserahkan kepada Belanda yang menjadikannya pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Namanya diganti dengan Fort Rotterdam sesuai dengan nama tempat kelahiran Cornelis Speelman yang saat itu menjabat sebagai Gurbernur Jenderal Hindia Belanda. Bangunan bentengnya bergaya arsitektur Eropa abad ke 16 yang masih terpelihara dengan baik. Bila ingin menjelajah benteng menggunakan pemandu tarifnya Rp. 125.000 per klompok (krn saya pergi perkelompok), bila tidak jelajahi saja sendiri ke lima sudutnya yang lazim disebut Bastion. Bastion-bastion ini bernama Bastion Bone terletak disebelah barat yang merupakan kepala penyu, Bastion BacamBastion ButanBastion Mandrasyah dan Bastion Amboina. Jangan lupa ngobrol-ngobrol aja dengan bapak-bapak PNS yang berada di sekitar situ, mereka dengan senang hati akan bercerita tentang sejarah benteng (nah sama kan dengan pemandu :) ! ). tpi lebih seru jika ada pemandu apalagi pemandunya jago bhs.inggris loh :)

 Didalam area benteng ini juga terdapat Museum La Galigo, museum 2 lantai yang banyak menyimpan berbagai benda peninggalan kuno masyarakat Bugis-Makassar. Nama La Galigo sendiri diambil dari nama tokoh dalam karya epos La Galigo yang konon merupakan karya sastra terpanjang didunia melebihi kisah Mahabarata. Website resmi dan barang-barang koleksi museum dapat dilihat disini. Tiket masuk museum ini adalah Rp. 5.000 untuk dewasa dan Rp. 3.000 untuk anak-anak.

Museum La Galigo dapat dijumpai di dalam komplek benteng Fort Rotterdam dan menempati beberapa bangunan utama. Pendirian museum ini sudah diawali pada masa pemerintahan Hindia Belanda yaitu pada tahun 1838 dengan nama Celebes Museum. Kemudian setelah masa kemerdekaan, museum ini beberapa kali mengalami renovasi hingga yang kita saksikan di tahun 2011 adalah museum yang baru saja selesai direnovasi. Koleksi museum ini sangat lengkap dengan berbagai benda peraga dan koleksi benda-benda asli. Menyajikan koleksi dari jaman pra sejarah hingga jama modern, dilengkapi dengan ilustrasi lukisan dan narasi yang sangat menarik dan sangat sayang untuk dilewatkan. Sebaiknya kita menyurusi museum secara berurut dari jaman Paleolitik (berburu dan mengumpulkan makanan tingkat awal), Mezolitik (berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut), Neolitik (bercocok tanam), Megalitik, Perundagian, Jaman Budaya Islam, Jaman Kolonial.
Al Quran tulis tangan

Misalnya pada jaman Mezolitik, manusia sudah mulai bertempat tinggal sementara di dalam gua, ceruk atau pondok sederhana dan dibuktikan dengan ditemukannya gambar berupa cap tangan dan gambar binatang di dalam gua yang terdapat di daerah Maros, Pangkep, Soppeng, Bone dan Bantaeng. Ras yang ada pada jaman tersebut adalah ras Astromelanozoid, Mongoloid dan di Sulawesi Selatan dikenal dengan suku Toala. Alat yang digunakan masih berupa batu yang sudah mulai dibentuk misalnya sebagai mata panah bergirigi untuk tombak dalam mencari ikan. Sedangkan pada masa bercocok tanam (Neolitik) ditemukan situs-situs di daerah Sulawesi Selatan berupa beliung persegi dan kapak lonjong di Kamasi dan Minanga Sipakka, Bunu Banua, Maros dan Tana Toraja. Pada masa Budaya Islam ditemukan adanya tasbih, Al Quran yang ditulis tangan, Masjid Katangka, Masjid Palopo, dan Sikkiri Tujua yaitu berupa naskah dan doa-doa berisi riwayat Nabi yang dibacakan di istana pada tiap malam Senin dan malam jumat yang dihadiri anggota adat kerajaan dan pemuka masyarakat.
Mahkota Raja - Museum La Galigo

Senjata zaman kolonial

Pelaminan untuk kerajaan

Naskah di daun lontar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar